Oleh: Bangkit Rahmat Tri Widodo

“Sebagai corat-coret refleksi di penghujung tahun 2025 dan insight di awal tahun 2026”
Dalam hidup, tidak semua yang ramai itu berisi. Tidak semua yang cepat itu bermakna.
Orang Jawa menyebut sesuatu yang menthes (padat, bernilai, dan punya isi) sebagai sesuatu yang matang dari dalam, bukan sekadar tampak dari luar.
Menthes itu bukan soal besar atau kecil, mahal atau murah.
Kadang justru hadir dalam hal-hal sederhana: cara kita memperlakukan orang lain, kesediaan kita menunggu, atau kemauan kita memahami tanpa harus banyak bicara.
Sikap menthes lahir dari kepekaan. Dari kebiasaan melihat lebih dalam, bukan sekadar melihat sekilas saja. Dari kesadaran bahwa tidak semua orang berjalan dengan kelengkapan yang sama, namun tetap layak dihormati sepenuh hati.
Orang yang menthes tidak reaktif, tidak grusa-grusu menghakimi. Ia memilih memahami sebelum menilai, mendengar sebelum menyela, dan menimbang sebelum bersuara.
Bukan karena ia paling benar, tetapi karena ia cukup dewasa untuk tidak selalu ingin menang.
Dalam masyarakat, kualitas hidup bukan diukur dari seberapa keras kita berbicara, melainkan seberapa dalam kita peduli.
Di situlah menthes bekerja secara diam-diam, hingga mungkin tidak terasa.
Karena pada akhirnya, yang membuat hidup bernilai bukan banyaknya yang kita miliki,
melainkan kedalaman sikap yang kita latih setiap hari.
Leave a comment