Oleh: Bangkit Rahmat Tri Widodo

Strategi Pertahanan Nasional Amerika Serikat tahun 2026 (2026 National Defense Strategy, disingkat NDS 2026) merupakan dokumen kebijakan pertahanan komprehensif yang diterbitkan pada awal periode kedua pemerintahan Presiden Donald J. Trump. Dokumen ini tampil sebagai strategi pertahanan pertama setelah NDS 2022 yang disusun pada era Presiden Joe Biden, sekaligus menandai pergeseran orientasi kebijakan yang jelas sejalan dengan doktrin “America First”. NDS 2026 menegaskan bahwa Trump mengambil alih kepemimpinan pada Januari 2025 dalam sebuah lingkungan keamanan yang dipandang “sangat berbahaya” dan bahkan disebut sebagai salah satu kondisi terburuk dalam sejarah Amerika modern (U.S. Department of Defense, 2026). Dalam kerangka strategis ini, ancaman terhadap Amerika Serikat tidak lagi dipahami sebagai risiko tunggal yang terlokalisasi, melainkan sebagai tekanan simultan yang bergerak lintas wilayah, lintas spektrum konflik, dan lintas dimensi kekuatan negara.

Pendahuluan NDS 2026 juga memuat kritik yang keras terhadap arah kebijakan pasca-Perang Dingin yang dinilai telah menggeser fokus pertahanan Amerika dari kepentingan nasional yang konkret menuju proyek-proyek idealistik yang membebani, seperti perang berkepanjangan, stabilisasi tanpa ujung, serta ekspansi keterlibatan militer tanpa prioritas yang tegas. Dalam narasi dokumen tersebut, elite kebijakan sebelumnya digambarkan membiarkan perbatasan terbuka, mengabaikan semangat Doktrin Monroe sebagai prinsip proteksi geopolitik Hemisfer Barat, menyerahkan pengaruh atas kawasan strategis di lingkungan dekat Amerika, serta mengorbankan daya tahan basis industri pertahanan melalui relokasi produksi ke luar negeri (U.S. Department of Defense, 2026). Konsekuensi dari kesalahan-kesalahan tersebut, menurut NDS 2026, adalah melemahnya kesiapan dan ketahanan nasional Amerika menjelang 2025, ketika ancaman justru meningkat dari berbagai arah, mulai dari kekuatan transnasional seperti kartel narkotika dan jaringan teror, hingga tekanan agresif dari kekuatan besar di Eurasia dan Indo-Pasifik (U.S. Department of Defense, 2026).

Dalam konteks itulah NDS 2026 muncul sebagai upaya korektif yang bertujuan “membalik keadaan” melalui penataan ulang prioritas strategis. Strategi ini menegaskan bahwa Amerika tidak dapat mempertahankan keamanan dan kemakmurannya bila tetap terjebak pada pola keterlibatan global yang terlalu luas, terlalu mahal, dan terlalu jauh dari kepentingan vital nasional. Monograf analitis ini bertujuan membedah elemen-elemen utama NDS 2026 secara mendalam, mencakup cara dokumen tersebut mengonstruksi lingkungan strategis, bagaimana ia merumuskan pendekatan strategis, bagaimana ancaman utama dipetakan dan diprioritaskan, bagaimana relasi aliansi didesain ulang melalui konsep pembagian beban, bagaimana basis industri pertahanan diposisikan sebagai fondasi kekuatan, serta bagaimana keseluruhan strategi ini membedakan dirinya dari paradigma pertahanan sebelumnya.

Lingkungan Strategis

NDS 2026 menggambarkan lingkungan strategis global 2025–2026 sebagai ruang kompetisi yang semakin padat, berlapis, dan berbahaya, di mana ancaman tidak hanya meningkat dari sisi kuantitas tetapi juga dari sisi simultanitas. Dokumen ini menekankan bahwa Amerika menghadapi risiko yang muncul bersamaan di berbagai kawasan, dan situasi semacam itu menciptakan tekanan struktural terhadap kemampuan negara untuk mengalokasikan kekuatan secara efektif (U.S. Department of Defense, 2026). Salah satu pergeseran paling signifikan adalah bagaimana Hemisfer Barat, yang secara historis dipandang sebagai lingkungan relatif aman bagi Amerika, kini ditempatkan sebagai arena kontestasi yang semakin nyata. NDS 2026 menegaskan bahwa pengaruh kekuatan lawan meningkat dari Greenland di utara hingga Terusan Panama di selatan, sehingga mengancam akses Amerika terhadap wilayah kunci yang selama ini dianggap berada dalam lingkup dominasi geopolitik Washington (U.S. Department of Defense, 2026).

Kondisi tersebut mendorong kebangkitan kembali logika Doktrin Monroe sebagai fondasi sikap strategis Amerika di kawasan. NDS 2026 menyatakan bahwa Amerika tidak akan lagi “menyerahkan akses atau pengaruh” atas wilayah penting di Belahan Barat, dan menegaskan penerapan “Trump Corollary to the Monroe Doctrine” sebagai bentuk modernisasi prinsip lama yang menolak campur tangan kekuatan eksternal di benua Amerika (U.S. Department of Defense, 2026). Dalam kerangka ini, Terusan Panama, kawasan Teluk Meksiko yang dalam dokumen disebut sebagai “Gulf of America”, serta Greenland, dipandang sebagai titik-titik strategis yang harus diamankan bukan hanya melalui diplomasi, tetapi juga melalui postur militer dan pengaruh politik yang tegas (U.S. Department of Defense, 2026).

Di Eropa, NDS 2026 mengaitkan instabilitas strategis dengan lemahnya pembagian beban di dalam NATO selama beberapa dekade. Strategi ini menilai bahwa kecenderungan sekutu untuk melakukan free-riding membuat kemampuan kolektif NATO melemah, dan perang Rusia–Ukraina sejak 2022 memperlihatkan bagaimana kerentanan tersebut dapat dimanfaatkan oleh Moskow (U.S. Department of Defense, 2026). Dokumen ini menekankan bahwa agresi Rusia tidak dapat dipahami semata sebagai krisis regional, melainkan sebagai pengingat bahwa perang konvensional skala besar di Eropa masih mungkin terjadi. Namun, strategi ini juga menggarisbawahi bahwa kapasitas ekonomi dan industri negara-negara Eropa sebenarnya jauh lebih besar dibanding Rusia, sehingga masalah utamanya bukan kekurangan sumber daya, melainkan ketidakseriusan politik dan desain tanggung jawab kolektif yang terlalu bergantung pada Amerika (U.S. Department of Defense, 2026).

Timur Tengah dalam NDS 2026 diposisikan sebagai kawasan yang tetap volatil dan penuh risiko, terutama akibat ancaman proliferasi nuklir Iran, jaringan proksi bersenjata, serta eskalasi konflik yang dapat menyebar secara cepat dan memengaruhi kepentingan global Amerika. Strategi ini menyoroti serangan teroris besar terhadap Israel dan menggambarkan bagaimana pendekatan setengah hati di masa sebelumnya memperbesar ketidakstabilan kawasan (U.S. Department of Defense, 2026). Meski demikian, NDS 2026 tidak memposisikan Timur Tengah sebagai pusat gravitasi utama strategi pertahanan global, melainkan sebagai kawasan yang harus dikelola melalui penguatan sekutu garis depan dan tindakan tegas yang selektif bila kepentingan Amerika terancam.

Puncak dari konstruksi lingkungan strategis NDS 2026 adalah penetapan Tiongkok sebagai rival utama dalam kontestasi global. Dokumen ini menyatakan bahwa Tiongkok kini merupakan kekuatan kedua terbesar dunia setelah Amerika, dan bahkan disebut sebagai kekuatan paling signifikan relatif terhadap Amerika sejak abad ke-19 (U.S. Department of Defense, 2026). Strategi ini menekankan bahwa peningkatan militer Tiongkok terjadi dengan kecepatan, skala, dan kualitas yang luar biasa, sehingga menjadi tantangan struktural yang tidak dapat diabaikan (U.S. Department of Defense, 2026). Indo-Pasifik dipandang sebagai pusat gravitasi ekonomi dunia, dengan proyeksi bahwa kawasan ini akan mencakup lebih dari separuh ekonomi global. Karena itu, dominasi Tiongkok di Indo-Pasifik dianggap tidak dapat diterima, sebab hal itu berpotensi memungkinkan Beijing memveto akses Amerika terhadap pusat ekonomi dunia, dan pada akhirnya melemahkan kemakmuran Amerika sendiri (U.S. Department of Defense, 2026).

Secara keseluruhan, lingkungan strategis dalam NDS 2026 ditandai oleh intensifikasi persaingan kekuatan besar, ancaman regional dari negara-negara yang dianggap revisionis atau “nakal”, serta ancaman transnasional yang mengganggu stabilitas internal. Perpaduan ini menciptakan tuntutan untuk perubahan strategi yang drastis, bukan sekadar penyesuaian kecil, karena menurut NDS 2026 ancaman bukan hanya semakin besar, tetapi juga semakin serentak.

Pendekatan Strategis

Sebagai respons terhadap lingkungan strategis yang kompleks dan simultan, NDS 2026 mengusung pendekatan strategis yang berakar pada realisme pragmatis, dengan penekanan pada prioritas, selektivitas, dan pemetaan ulang kepentingan vital nasional. Dokumen ini menyatakan bahwa logika inti strategi adalah menempatkan kepentingan Amerika “pertama” dalam arti yang konkret dan praktis, serta menghubungkan tujuan nasional dengan cara dan sumber daya secara realistis (U.S. Department of Defense, 2026). Dalam perspektif ini, strategi pertahanan bukan arena untuk idealisme universal, melainkan instrumen negara untuk menjamin keamanan, kedaulatan, dan kemakmuran nasional.

Berbeda dari strategi 2022 yang menekankan multilateralisme dan kerangka normatif yang lebih luas, NDS 2026 menonjolkan apa yang disebut sebagai hardnosed realism, yaitu realisme tanpa ilusi yang menghindari beban moral-politik berlebihan dan menempatkan efektivitas kekuatan sebagai ukuran utama (U.S. Department of Defense, 2026). Dalam kerangka ini, “peace through strength” dipahami bukan sebagai slogan, melainkan sebagai logika pencegahan perang. Perdamaian dianggap hanya mungkin dicapai bila lawan melihat bahwa agresi tidak akan berhasil dan biaya eskalasi akan melampaui manfaatnya.

Strategi ini menempatkan pertahanan tanah air sebagai prioritas pertama. NDS 2026 menegaskan bahwa keamanan perbatasan adalah bagian dari keamanan nasional, dan negara harus berani mengambil tindakan tegas untuk menghentikan ancaman yang datang dari kriminal transnasional, kartel narkoba, serta jaringan teror yang memanfaatkan celah perbatasan (U.S. Department of Defense, 2026). Selain memperketat kontrol domestik, strategi ini juga membuka ruang bagi tindakan pre-emptive jauh dari perbatasan bila dianggap perlu, termasuk dalam konteks Hemisfer Barat. Dokumen tersebut bahkan menyatakan bahwa bila negara-negara tetangga tidak mampu atau tidak mau turut serta, Amerika siap melakukan tindakan sepihak yang terfokus demi kepentingannya sendiri (U.S. Department of Defense, 2026).

Prioritas kedua adalah pencegahan dominasi Tiongkok di Indo-Pasifik. NDS 2026 menekankan bahwa Amerika tidak menginginkan konfrontasi yang tidak perlu, dan bahkan membuka ruang bagi hubungan yang stabil serta negosiasi langsung, namun hanya mungkin dilakukan bila Amerika dan sekutunya berada pada posisi kekuatan (U.S. Department of Defense, 2026). Tujuan strategi ini bukan menjatuhkan rezim Tiongkok atau mempermalukannya, melainkan mencegah siapa pun mendominasi Amerika dan sekutunya. Karena itu, strategi ini mendorong pembangunan “strong denial defense” di sepanjang First Island Chain sebagai bentuk penolakan terhadap kemungkinan agresi militer Tiongkok (U.S. Department of Defense, 2026).

Prioritas ketiga adalah pembagian beban yang lebih keras dan eksplisit dengan sekutu. NDS 2026 menolak anggapan bahwa America First berarti isolasionisme, dan justru menegaskan bahwa strategi ini adalah keterlibatan luar negeri yang terfokus dan bersyarat demi kepentingan Amerika (U.S. Department of Defense, 2026). Namun, aliansi tidak lagi dipahami sebagai hubungan proteksi sepihak. Dokumen tersebut menyatakan bahwa selama puluhan tahun sekutu terlalu nyaman membiarkan Amerika membela mereka sementara mereka memotong anggaran pertahanan dan mengalihkan dana ke program domestik, dan era tersebut dinyatakan telah berakhir (U.S. Department of Defense, 2026). Dalam konteks NATO, strategi ini menonjolkan standar baru belanja pertahanan sebesar 5% PDB sebagai norma global baru, yang jauh melampaui target 2% yang selama ini menjadi patokan (U.S. Department of Defense, 2026).

Prioritas keempat adalah revitalisasi basis industri pertahanan Amerika sebagai fondasi kekuatan militer jangka panjang. NDS 2026 menyatakan bahwa basis industri pertahanan adalah landasan utama untuk membangun kembali dan menyesuaikan militer agar tetap menjadi yang terkuat di dunia (U.S. Department of Defense, 2026). Dokumen ini menghubungkan kekuatan tempur bukan hanya pada doktrin dan pasukan, tetapi pada kemampuan industri untuk memproduksi sistem persenjataan dalam skala besar, cepat, dan berkualitas tinggi. Dalam narasi strategi ini, Trump digambarkan memimpin kebangkitan industri sekali dalam satu abad melalui kebijakan re-shoring, pemangkasan regulasi usang, serta mobilisasi inovasi teknologi seperti kecerdasan buatan untuk mempercepat kemampuan produksi pertahanan (U.S. Department of Defense, 2026).

Secara keseluruhan, pendekatan strategis NDS 2026 menandai perubahan paradigma dari strategi pertahanan yang berorientasi pada manajemen keterlibatan global luas menuju strategi yang menekankan prioritas keras, efisiensi alokasi sumber daya, dan pencegahan perang melalui dominasi kekuatan yang selektif. Strategi ini menegaskan bahwa Amerika akan selalu membawa “pedang” yang tajam, tetapi tetap membuka ruang bagi “ranting zaitun”, sebuah metafora yang mencerminkan kombinasi antara kesiapan perang dan peluang diplomasi yang bersyarat (U.S. Department of Defense, 2026).

Analisis Ancaman

Ancaman utama yang dipetakan NDS 2026 dapat dipahami melalui logika hierarki, di mana Tiongkok ditempatkan sebagai rival strategis utama, Rusia sebagai ancaman yang berbahaya tetapi lebih dapat dikelola, Iran sebagai ancaman regional yang melemah namun belum hilang, dan Korea Utara sebagai ancaman yang terutama menguji daya tangkal sekutu Asia Timur sekaligus menimbulkan risiko strategis bagi tanah air Amerika.

Dalam konteks Tiongkok, NDS 2026 mengawali analisis ancaman dengan pengakuan realistis bahwa Beijing sudah menjadi negara terkuat kedua di dunia dan rival paling kuat yang dihadapi Amerika dalam lebih dari satu abad (U.S. Department of Defense, 2026). Dokumen ini menekankan bahwa meskipun Tiongkok menghadapi problem domestik, kekuatan militernya terus tumbuh dan bahkan masih dapat berkembang lebih jauh. Implikasinya adalah bahwa Indo-Pasifik bukan sekadar kawasan regional, melainkan pusat gravitasi ekonomi global. Jika Tiongkok mendominasi kawasan ini, maka Beijing dapat mengendalikan akses Amerika ke pusat ekonomi dunia, dan pada akhirnya melemahkan kemakmuran Amerika serta agenda reindustrialisasi domestiknya (U.S. Department of Defense, 2026). Strategi ini menegaskan bahwa tujuan Amerika bukan dominasi atau penghinaan terhadap Tiongkok, melainkan pencegahan agar tidak ada kekuatan yang mampu mendominasi Amerika dan sekutunya. Oleh karena itu, NDS 2026 menempatkan pembangunan pertahanan penolakan berlapis sebagai inti dari pencegahan konflik besar di Indo-Pasifik, sembari tetap membuka jalur komunikasi militer untuk mencegah miskalkulasi strategis (U.S. Department of Defense, 2026).

Rusia diposisikan sebagai ancaman yang berbahaya tetapi relatif lebih terbatas dibanding Tiongkok. Strategi ini mengakui bahwa perang Ukraina menunjukkan Rusia masih memiliki kapasitas militer dan industri yang cukup dalam, serta tetap memegang arsenal nuklir terbesar di dunia yang terus dimodernisasi (U.S. Department of Defense, 2026). Namun, dokumen ini juga menekankan ketimpangan kekuatan antara Rusia dan NATO, dengan argumen bahwa Eropa sebenarnya memiliki kapasitas ekonomi jauh lebih besar dan seharusnya mampu memimpin pertahanan konvensional di kawasannya sendiri. Karena itu, strategi Amerika adalah tetap terlibat dan siap membela sekutu NATO, namun pada saat yang sama mengalihkan fokus utama ke pertahanan tanah air dan Indo-Pasifik, serta menekan Eropa untuk memikul tanggung jawab lebih besar termasuk dalam konteks Ukraina (U.S. Department of Defense, 2026).

Iran digambarkan sebagai ancaman regional yang telah dilemahkan melalui pendekatan ofensif dan tindakan tegas. NDS 2026 menyebut adanya operasi militer besar yang menghancurkan program nuklir Iran, dan menekankan bahwa rezim Iran kini lebih lemah serta lebih rentan dibanding beberapa dekade terakhir (U.S. Department of Defense, 2026). Selain itu, strategi ini menilai bahwa jaringan proksi Iran telah dihancurkan atau dilemahkan melalui operasi militer Israel dan Amerika, termasuk operasi yang menekan kemampuan serangan Houthi (U.S. Department of Defense, 2026). Namun dokumen ini tidak menganggap ancaman Iran lenyap sepenuhnya, karena Teheran dinilai masih bertekad membangun kembali kekuatan militernya. Karena itu, strategi menekankan pemberdayaan sekutu regional seperti Israel dan mitra Teluk untuk memimpin penahanan Iran, sementara Amerika mempertahankan kemampuan intervensi terbatas bila kepentingan nasionalnya terancam (U.S. Department of Defense, 2026).

Korea Utara tetap dipandang sebagai ancaman serius yang terutama mengancam Korea Selatan dan Jepang, namun juga semakin relevan bagi keamanan tanah air Amerika karena perkembangan kapabilitas misil dan nuklirnya. NDS 2026 menegaskan bahwa kekuatan nuklir Korea Utara tumbuh dalam ukuran dan kecanggihan, sehingga menghadirkan bahaya nyata bagi Amerika (U.S. Department of Defense, 2026). Dalam menghadapi ancaman ini, strategi menekankan bahwa Korea Selatan memiliki kapasitas dan kehendak untuk memimpin pencegahan terhadap Korea Utara, dengan dukungan Amerika yang kritis namun lebih terbatas. Dengan demikian, strategi Korea Utara juga menjadi bagian dari desain burden-sharing, yaitu mendorong sekutu garis depan menjadi aktor utama dalam pertahanan kawasan mereka (U.S. Department of Defense, 2026).

Pembagian Beban dengan Sekutu

Pembagian beban muncul sebagai salah satu benang merah paling menentukan dalam NDS 2026, bukan sekadar sebagai tuntutan finansial, tetapi sebagai prasyarat strategis menghadapi risiko perang multi-front. Dokumen ini menyoroti kemungkinan bahwa dua atau lebih lawan dapat bertindak secara terkoordinasi atau oportunistik di berbagai kawasan secara bersamaan, dan kondisi ini akan menjadi bencana strategis bila sekutu tetap menjadi pihak yang bergantung (U.S. Department of Defense, 2026). Dalam logika tersebut, sekutu harus bertransformasi dari “dependents” menjadi mitra yang benar-benar mampu dan bersedia memikul tanggung jawab utama.

NDS 2026 menegaskan bahwa selama puluhan tahun sekutu terlalu nyaman membiarkan Amerika membela mereka, sementara mereka mengurangi belanja pertahanan dan mengalokasikan sumber daya untuk agenda domestik, dan strategi ini menyatakan bahwa pola itu telah berakhir (U.S. Department of Defense, 2026). Standar 5% PDB sebagai norma baru belanja pertahanan NATO menjadi simbol perubahan tersebut, sekaligus instrumen politik untuk memaksa transformasi kapasitas militer sekutu (U.S. Department of Defense, 2026). Dalam praktiknya, pembagian beban juga berarti pembagian tanggung jawab geografis, di mana Amerika memprioritaskan pertahanan tanah air dan Indo-Pasifik, sementara sekutu diharapkan mengambil tanggung jawab utama atas kawasan mereka sendiri seperti Eropa dan Timur Tengah, dengan dukungan Amerika yang lebih selektif.

Revitalisasi Basis Industri Pertahanan

Salah satu aspek paling khas dari NDS 2026 adalah penempatan basis industri pertahanan sebagai pusat strategi, bukan sekadar isu pendukung. Strategi ini menyatakan bahwa basis industri pertahanan Amerika adalah fondasi untuk membangun kembali kekuatan militer dan memastikan Amerika tetap menjadi yang terkuat di dunia (U.S. Department of Defense, 2026). Dokumen ini menilai bahwa relokasi industri ke luar negeri selama beberapa dekade telah melemahkan daya tahan nasional, sehingga proyek re-shoring dan kebangkitan industri dipandang sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar agenda ekonomi.

NDS 2026 menekankan bahwa Amerika harus kembali menjadi “arsenal utama dunia”, mampu memproduksi persenjataan dalam skala besar, cepat, dan berkualitas tertinggi untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun sekutu (U.S. Department of Defense, 2026). Untuk mencapai itu, strategi mendorong investasi pada inovasi teknologi, pemangkasan regulasi yang menghambat, serta mobilisasi nasional yang setara dengan semangat mobilisasi industri pada era perang dunia. Menariknya, strategi ini juga membuka ruang produksi bersama dengan sekutu sebagai cara mempercepat output dan memperkuat kemampuan kolektif, namun tetap dalam kerangka kepentingan Amerika dan desain burden-sharing (U.S. Department of Defense, 2026).

Kesimpulan

NDS 2026 merupakan deklarasi transformasi strategi pertahanan Amerika yang menegaskan perubahan dari paradigma keterlibatan global luas menuju strategi selektif berbasis kepentingan vital nasional. Dokumen ini mengedepankan realisme pragmatis, pencegahan perang melalui kekuatan, serta penataan ulang relasi aliansi melalui pembagian beban yang lebih keras dan eksplisit (U.S. Department of Defense, 2026). Strategi ini menempatkan Tiongkok sebagai rival utama dalam persaingan kekuatan besar, mengkalibrasi ulang ancaman Rusia sebagai risiko yang penting namun relatif lebih dapat dikelola, menekan Iran melalui kombinasi tindakan ofensif dan pemberdayaan sekutu regional, serta menempatkan Korea Utara dalam kerangka deterrence berbasis kepemimpinan sekutu Asia Timur (U.S. Department of Defense, 2026).

Di luar dimensi eksternal, NDS 2026 menempatkan kebangkitan basis industri pertahanan sebagai prasyarat kemenangan jangka panjang, karena dalam konflik intensif dan berkepanjangan, kapasitas industri menjadi determinan utama keberlanjutan kekuatan militer. Dengan demikian, strategi ini menggabungkan postur militer, desain aliansi, dan mobilisasi industri ke dalam satu kerangka besar yang bertujuan menghindari overstretch, menjaga fleksibilitas operasional, serta memaksimalkan posisi tawar Amerika dalam diplomasi dan konflik.

Pada akhirnya, NDS 2026 memproyeksikan sebuah visi bahwa Amerika akan selalu membawa kekuatan militer yang unggul, namun tetap membuka ruang bagi perdamaian bersyarat yang didasarkan pada penghormatan terhadap kepentingan vital Amerika dan sekutunya. Apakah strategi ini menghasilkan stabilitas atau justru memicu eskalasi akan sangat bergantung pada respons sekutu, kalkulasi lawan, dan kemampuan Amerika menerjemahkan dokumen strategis ini menjadi kebijakan nyata yang konsisten.

Posted in

Leave a comment