Oleh: Bangkit Rahmat Tri Widodo

Situasi keamanan di Teluk Persia dan Selat Hormuz pada akhir Februari 2026 bergerak dari pola “tekanan terukur” menuju eskalasi terbuka yang melibatkan serangan lintas-domain dan lintas-wilayah, dengan konsekuensi langsung terhadap stabilitas kawasan, keselamatan jalur pelayaran, serta ekspektasi pasar energi global. Dalam berbagai laporan media internasional, rangkaian kejadian dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di sekitar Teheran dan kota-kota lain yang dinilai bernilai strategis, yang kemudian diikuti respons balasan Iran melalui peluncuran rudal dan drone ke arah Israel serta sasaran terkait kepentingan AS di kawasan Teluk dan sekitarnya (Al Jazeera, 2026; Associated Press, 2026; The Guardian, 2026).

Yang membuat eskalasi kali ini sangat sensitif adalah munculnya dimensi “spillover” ke negara-negara Teluk yang menjadi host pangkalan, fasilitas, atau simpul logistik militer AS. Pelaporan mutakhir menyebut adanya serangan balasan yang menjangkau beberapa negara Teluk, dengan sebagian di antaranya mengaktifkan pertahanan udara, mengeluarkan peringatan keamanan, dan memberlakukan langkah-langkah kedaruratan untuk warga dan personel asing (The Guardian, 2026; Reuters, 2026). Narasi yang berkembang juga memperlihatkan bahwa sasaran tidak lagi terbatas pada simbol politik, melainkan beririsan dengan node militer-operasional dan infrastruktur penopang yang secara tradisional dipahami sebagai “kedalaman aman” (Associated Press, 2026; Reuters, 2026). Pada level strategis, ini mendorong dilema klasik deterensi: setiap respons untuk menjaga kredibilitas dapat terbaca sebagai eskalasi lanjutan, sementara penahanan diri berisiko dipersepsikan sebagai pelemahan postur.

Di ruang udara regional, eskalasi segera menciptakan efek domino berupa penutupan atau penghindaran rute penerbangan di atas beberapa negara, pembatalan penerbangan komersial, serta rerouting besar-besaran oleh maskapai internasional. Ini bukan sekadar konsekuensi administratif, melainkan indikator bahwa risiko kinetik (misil, drone, pertahanan udara aktif) telah menembus kalkulasi keselamatan penerbangan sipil dan rantai logistik kawasan (Associated Press, 2026; Reuters, 2026). Bersamaan dengan itu, sejumlah pemerintah juga mengeluarkan imbauan “shelter in place” atau kewaspadaan tinggi kepada warga negaranya di negara-negara Teluk, yang menggarisbawahi persepsi ancaman yang meluas dan sulit diprediksi (Reuters, 2026).

Di domain maritim, Selat Hormuz kembali menjadi pusat gravitasi geopolitik karena posisinya sebagai choke point utama ekspor minyak dan gas dari Teluk menuju pasar dunia. Data lembaga energi menunjukkan volume minyak mentah dan produk minyak yang transit Selat Hormuz merupakan porsi yang sangat besar dari perdagangan minyak global, sehingga bahkan gangguan kecil dapat memicu lonjakan risk premium dan volatilitas harga (International Energy Agency [IEA], 2023; U.S. Energy Information Administration [EIA], 2023). Karena itulah pasar bereaksi cepat: analis dan pelaku pasar menilai premi risiko geopolitik meningkat seiring kekhawatiran gangguan suplai melalui Hormuz, dan pergerakan harga Brent mencerminkan masuknya kembali risk premium ketika tensi AS–Iran meningkat (Reuters, 2026). Sejumlah analisis pasar bahkan memproyeksikan skenario harga yang lebih tinggi jika terjadi disrupsi fisik terhadap suplai, meskipun tetap ada ruang de-eskalasi apabila tidak terjadi gangguan nyata pada arus ekspor (Reuters, 2026).

Sementara itu, dimensi siber dan perang informasi memperparah kabut situasi. Pelaporan terbaru menyebut terjadinya penurunan tajam konektivitas internet di Iran hingga mendekati “near-total blackout” menurut pemantauan NetBlocks yang dikutip media, yang pada praktiknya menghambat verifikasi independen, memperlambat arus informasi, dan meningkatkan ruang bagi rumor serta disinformasi (The Washington Post, 2026). Dalam konflik modern, pemutusan konektivitas semacam ini bukan hanya isu teknis; ia memengaruhi kemampuan publik mengakses informasi kredibel, memengaruhi stabilitas domestik, dan membentuk persepsi internasional tentang eskalasi dan korban, yang pada akhirnya dapat berdampak pada legitimasi tindakan dan ruang diplomasi.

Dengan konfigurasi tersebut, dinamika terkini di Teluk dapat dipahami sebagai eskalasi multidomain yang mengunci para pihak pada logika aksi–reaksi cepat. Risiko utama dalam jangka pendek bukan semata pertukaran serangan berikutnya, melainkan perluasan target ke simpul energi dan maritim, serta insiden salah kalkulasi di ruang udara dan laut yang padat aset militer. Selama jalur de-eskalasi belum memperoleh pijakan yang kredibel, baik melalui kanal diplomasi, penahanan target, maupun pembatasan ruang operasi, kawasan Teluk dan Selat Hormuz akan tetap menjadi titik rawan yang menghubungkan konflik keamanan dengan guncangan ekonomi global (Al Jazeera, 2026; Associated Press, 2026; IEA, 2023; Reuters, 2026).

Daftar Referensi

Al Jazeera. (2026, February 28). Why are the US and Israel attacking Iran? What we know so far. Al Jazeera. 

Associated Press. (2026, February 28). US and Israel launch a major attack on Iran and Trump urges Iranians to “take over your government”. Associated Press. 

Associated Press. (2026, February 28). Live updates: US and Israel strike Iran. Associated Press. 

Associated Press. (2026, February 28). Russia condemns US-Israel strikes on Iran as “unprovoked act of armed aggression”. Associated Press. 

International Energy Agency. (2025, June 17). Oil Market Report – June 2025 (Analysis). IEA. 

International Energy Agency. (2026, February 12). Oil Market Report – February 2026 (Analysis). IEA. 

International Energy Agency. (2025). Strait of Hormuz factsheet. IEA. 

IFEX. (2026, February 25). Iran internet shutdown silences witnesses, distorts global narratives. IFEX. 

Reuters. (2026, February 28). Israel says it launched pre-emptive attack against Iran. Reuters. 

Reuters. (2026, February 28). Israel shuts schools, bans gatherings as Iran launches retaliatory missiles. Reuters. 

Reuters. (2026, February 27). Oil prices rise more than 2% as US and Iran extend talks. Reuters. 

Reuters. (2026, February 27). Barclays says Brent could reach $80 a barrel on US-Iran tensions. Reuters. 

Reuters. (2026, February 28). Market analysts react to US-Israel strikes on Iran. Reuters. 

Reuters. (2026, January 8). Digital blackout hits Tehran, other parts of Iran, NetBlocks says. Reuters. 

The Guardian. (2026, February 28). Iran vows “no leniency” as it launches reprisal attacks on Israel and US air bases. The Guardian. 

U.S. Energy Information Administration. (2025, June 16). Amid regional conflict, the Strait of Hormuz remains critical… EIA (Today in Energy). 

The Washington Post. (2026, January 15). Iranians abroad wait for news from loved ones amid communications blackout. The Washington Post. 

Posted in

Leave a comment