Pemikiran Kebangsaan

Berbagi Pemikiran Demi Kemajuan Peradaban

(Seutas Kisah Nyata Kami)

Bangkit Rahmat Tri Widodo

Ahirnya kami berfikir untuk tidak menutupi masa lalu, serta tidak perlu iri kepada siapapun, karena kehidupan setiap manusia tidak akan sempurna.

Masa kanak kanak kami lewati dengan tinggal di kawasan kumuh perkotaan,
Suatu lingkungan yang sangat berpotensi menjadikan kita terpapar beragam pengaruh negatif,

Sahabat sahabat masa kecil kami cenderung malas untuk sekolah, karena mereka sudah dididik bahwa uang yang harus mereka cari bukan uang yang harus dihabiskan untuk sekolah,
Namun uang untuk bertahan hidup…

Hidup adalah pilihan,
Dalam kehidupan yang sangat minim dalam segala hal tersebut
Kami justru merasa sangat bahagia dan bersyukur dengan hal hal sederhana yang kami dapatkan, seperti bisa makan dua kali sehari, walau dengan lauk seadanya,
Kami tidak khawatir dengan bahaya mie instan, karena kami sering makan berlaukkan mie instan satu bungkus, ditambah air yang banyak agar cukup untuk kami berenam,

Begitupun sepatu dan tas sekolah, kami bertukar di tengah jalan dengan kakak kami yang masuk siang, bertukar dengan tas kresek dan sandal jepit yang akan selalu kami kenang.

Walaupun demikian, kami bangga dengan bapak dan ibu kami,
Yang senantiasa gigih membanting tulang walau rezeki tetap tidak mencukupi bagi kami sekeluarga,

Mereka berprinsip bahwa kami harus sekolah dan lebih baik kami lapar namun kami tetap sekolah,
Walau akibatnya kami kurang gizi karena makan sehari dua kali pun sungguh istimewa bagi kami,

Kami selalu semangat bersekolah karena sekolah adalah tempat paling membahagiakan kami,
Di sekolah kami merasa dihargai, kami merasa terlepas dari jeratan kemiskinan yang merenggut rasa percaya diri kami.

Kami merasa dihargai saat teman teman bertanya tentang pelajaran yang mungkin mereka belum paham dan takut bertanya pada guru,
Guru guru pun menghargai kami saat mendapatkan nilai baik dan selalu mematuhi aturan sekolah,
Dan yang lebih membahagiakan hati kami adalah senyuman bahagia orang tua kami yang jarang kami saksikan sehari hari, justru kami dengan puasnya saksikan saat beliau begitu bahagianya melihat prestasi kami di sekolah.

Berbeda dengan dunia pendidikan yang membahagiakan,
Di lingkungan tempat tinggal, kami justru merasa dikucilkan karena tidak lazim untuk memilih untuk serius bersekolah sehingga cenderung membatasi pergaulan dengan sahabat sahabat kecil kami.

Sejujurnya kami khawatir terpengaruh, karena sebagian besar teman sebaya kami lebih memilih mencari uang bahkan hingga harus berurusan dengan Polisi,
Mereka juga mulai merokok, mengenal minum minuman keras, hingga terlalu dini terpapar beragam pengaruh asusila,
Khas lingkungan perkotaan yang termarginalkan,

Kehidupan kami terasa nyaman walau relatif minim ketika kami duduk di bangku SD,
Hal ini berubah drastis ketika almarhum Bapak mengalami kebutaan karena Glaukoma saat kami kelas 1 SMP,

Terpaksa almarhumah ibunda menjadi tulang punggung keluarga…

Perjuangan Ibunda sungguh luar biasa, sebagai PNS Golongan I dengan gaji minus karena hutang yang menumpuk, ibunda terpaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga sepulang dari kantor, demi mengisi perut keluarganya…
Hal ini baru kami ketahui saat ibunda wafat, setelah adik beliau memberitahu rahasia tersebut yang tersimpan rapat rapat.
Ibu tidak ingin kami anak anaknya mengasihani beliau, dan ibu hanya ingin kami tetap konsentrasi menuntut ilmu.

Beliau pernah menangis saat kami pulang sekolah,
Ketika itu kami kelas dua SMP.
Kami bertanya, “mengapa ibu bersedih?”
“Ibu akan dipecat mas dari kantor, terus bagaimana ibu bisa membayar hutang dan memberi makan kalian semuanya?” Jawab ibu

Kami kembali bertanya, “mengapa ibu hendak dipecat?”
Jawaban ibu sungguh memilukan hati kami “Saya ingin membayar uang SPP sekolahmu mas, saya ingin kamu terus sekolah, saya terpaksa gadaikan mesin ketik kantor, agar kamu tetap sekolah, hanya itu yang bisa ibu lakukan, hingga ibu dapatkan pinjaman untuk menebusnya, sayangnya ibu justru ketahuan”

Sambil menangis pula kami seka lelehan air mata ibunda, “ibu jangan sedih, saya akan bekerja apabila ibu dipecat”
Ibu tidak berkenan dan menjawab, “jangan mas… belajar dan sekolahlah seperti cita citamu, ibu berdoa agar kamu bisa belajar dan menuntut ilmu hingga ke luar negeri… doakan saja semoga ibu dapatkan rezeki yang barokah untuk sekolahmu”

Kami sampaikan bahwa, “saya hanya ingin ibu bahagia”
Ibu menjawab bahwa beliau sudah sangat bahagia saat mendapatkan giliran mengambil rapor pertama karena kami mendapatkan ranking satu, Hal tersebut seolah olah menghilangkan semua beban kehidupannya dipundak beliau…

Alhamdulillah ibu tidak dipecat karena kebaikan hati atasannya setelah beliau berterus terang apa adanya saat di BAP,
Kami juga senantiasa berusaha menepati janji untuk selalu menjadi yang terbaik di sekolah, agar ibu tetap mengambil rapor giliran pertama.

Selepas SMA kami memantapkan hati untuk menjadi prajurit,

Teman teman sekolah kami banyak yang tidak yakin dengan niatan kami,
Dengan berat badan hanya 54 kg dan tinggi badan 166 cm, kami bukan sekedar kurus atau ceking namun sepertinya banyak cacing di perut kami,
Apalagi kami saat itu cenderung tertarik dengan secarik kertas, pena dan beragam rumus rumus serta persoalan matematika yang jauh lebih mengasyikkan untuk dipecahkan.

Niat tetap mantap di hati kami,
Kami berharap dengan menjadi prajurit, akan dapat meringankan beban orang tua kami,
Dibandingkan jika kami memilih untuk kuliah.
Terpaksa kami palsukan tanda tangan orang tua kami dalam setiap lembar persyaratan administrasi seleksi.

Pada awalnya kami merasa khawatir,

Keraguan muncul karena kami merasa “berkasta sudra dan sebatang kara” di dunia baru yang hendak kami pilih,
Sudra karena kami tidak memiliki uang…
Bahkan teman teman yang mengikuti seleksi sangat hapal dengan baju yang selalu kami kenakan,
Kami hanya memiliki satu baju sipil yang agak bagus, yaitu baju kotak kotak warna merah dan celana putih seragam SMA.
Kami rajin mencucinya apabila kotor dan esok paginya kami pakai lagi untuk kegiatan seleksi berikutnya,

Kami merasa sebatang kara karena memang kami tidak memiliki saudara maupun kerabat yang berdinas di dunia militer,

Saat itu ibu kecewa, karena keinginan beliau agar kami bisa menuntut ilmu ke luar negeri seolah sirna,
Beliau tidak berharap kami menjadi prajurit, karena kegagalan kakak pertama kami sebelumnya saat mengikuti seleksi menjadi prajurit TNI.
Sangat nekat, apabila kami memaksakan diri tanpa doa restu orang tua,

Alhamdulillah ahirnya kami direstui,
Kedua almarhum orang tua saat kami mohon doa restu beliau mengikuti seleksi Akabri menyampaikan pesan yang tidak akan pernah kami lupakan,

“Dadio tentara sing nurut, ojo nuntut macem macem lan ojo neko neko”
(Jadilah tentara yang nurut, jangan menuntut dan jangan aneh2)

“Kabeh kuwi bakalane mulyo yen carane bener”
(Semuanya itu pasti membawa kemuliaan apabila dengan cara yang benar)

“Ojo muluk-muluk amargo pingin pangkat lan jabatan, tapi malah ngrusak uripe liyan, pasrahne wae marang Gusthi
(Jangan berlebihan karena ingin pangkat dan jabatan, tapi malah merusak kehidupan orang lain, pasrahkan saja pada Yang Maha Kuasa)

Pesan sederhana tersebut sangat bermakna dan memudahkan kami dalam mengabdikan diri sebagai prajurit TNI.

Berkat doa restu orang tua, Alhamdulillah keinginan kami sejalan dengan kehendak Yang Maha Kuasa,
Kami diberkahi kesempatan untuk menjadi prajurit, tanpa mengeluarkan uang sedikitpun.

Kesan pertama kami dengan dunia baru sebagai prajurit adalah “bahagia”
Karena kami semua diperlakukan sama,
Baju, sepatu, perlengkapan dan segalanya semuanya seragam,
Tidak ada yang dibedakan.

Namun terselip juga kesedihan dibalik rasa bahagia itu,
Ketika kami makan di ruang makan,
Sebagai prajurit kami makan tiga kali sehari, dengan menu yang enak, sehat serta ditambah susu dan snack yang sangat mengenyangkan kami,

Kami sering menangis dalam hati, teringat keluarga kami di rumah…
Apakah mereka juga makan disaat kami kekenyangan?
Ingin rasanya kami menyisakan sebagian dan memberikannya kepada keluarga kami di rumah.

Karena kami terbiasa untuk bahagia dengan hal hal sederhana,
Kami tetap bahagia walau saat pesiar kami hanya sekedar pura pura keluar kesatrian sebentar sebagai kewajiban, dan segera kembali hanya untuk berhemat uang saku,
Kami sisihkan uang saku itu untuk membelikan oleh oleh bagi keluarga kami saat cuti kenaikan tingkat,

Rezeki itu sering tidak terduga datangnya, semua sudah ada garisannya…

Alhamdulillah di tahun 1996, kami terpilih mengikuti pertukaran Taruna AKABRI ke Turki.
Ketika itu, membayangkan naik pesawat saja kami sudah tidak bisa tidur,
Apalagi pergi ke luar negeri…
Sungguh suatu anugrah yang jauh dari impian kami,

Tiga bulan berikutnya saat kami cuti kenaikan tingkat,
Kami ceritakan perihal kunjungan kami di Turki yang belum sempat kami beritahukan sebelumnya,
Untuk menjawab kebingungan orang tua kami yang menerima kartu pos sehari sebelum kami tiba di rumah,
Kartu pos yang kami kirimkan 3 bulan sebelumnya saat kami transit di Bandara Frankfurt.

Orang tua kami seketika menangis bahagia mendengar cerita kami,
Sambil menangis ibu berkomentar dengan polosnya,
“Oalah le, awakmu anake wong mlarat kok yo iso budhal ning luar negeri”
(oalah nak, dirimu anaknya orang miskin kok bisa berangkat ke luar negeri)

Kami pun menangis bahagia dan bersyukur atas kesempatan yang diluar batas perkiraan kami itu,
Allah Maha Besar dan Maha Membuka Jalan…
Alhamdulillah doa tulus Almarhumah untuk anaknya agar bisa menuntut ilmu di Luar Negeri dikabulkan Allah SWT
Dan berikutnya hingga ibu dan bapak wafat, ibu selalu menangis gembira saat kami berangkat dan kembali dari menuntut ilmu maupun penugasan ke luar negeri

Tanggal 18 Desember 1997 adalah hari yang akan selalu kami kenang, Hari itu dilaksanakan upacara Prasetya Perwira atau pelantikan kami menjadi Perwira berpangkat Letnan Dua di Istana Negara,
Kami harap harap cemas menunggu kepastian apakah keluarga kami bisa datang menyaksikan pelantikan kami,

Kami tahu mereka ketika itu tidak memiliki uang, apalagi untuk berangkat ke Jakarta…
Alhamdulillah, rezeki berupa uang pinjaman didapatkan ibu kami sehingga keluarga kami bisa berangkat ke Jakarta,
Betapa bahagianya hati kami,
Kami ingin menunjukkan keberhasilan kami agar orang tua kami merasa bangga dan bahagia,
Walau kami bukan lulusan terbaik,
Kami juga bukan lulusan berprestasi, capaian kami tidak jauh berbeda dengan teman teman seangkatan kami lainnya,

Air mata bahagia kami menetes dengan derasnya persis setelah upacara, saat kami cium tangan kedua orang tua kami, terutama Almarhum Bapak kami.
Ketika itu Almarhum bapak hampir 10 tahun mengalami kebutaan karena glaukoma,

Dengan penuh kebanggaan beliau meraba lengan kami dan selanjutnya meraba pundak kami, sambil berkata
“Le, pangkatmu wis pindah yo, sak dhurunge ning lengen saiki ning pundhak, awakmu wis dadi perwira yo le, wah bungah tenan atiku le masiyo aku ora iso ndhelok”
(Nak pangkatmu sudah berpindah ya, sebelumnya di lengan sekarang di pundak, dirimu sudah menjadi perwira ya nak, senang sekali hati saya nak meskipun saya tidak bisa melihatnya)

Kebahagiaan kedua orang tua kami itu menguatkan tekad dan janji kami untuk menjadi prajurit yang “baik dan bermanfaat” agar kedua orang tua kami senantiasa bangga dan berbahagia.

Namun demikian, sepanjang karir kami hingga saat ini terselip satu penyesalan di hati kami,
Karena almarhumah ibu belum tercapai keinginan beliau untuk menyaksikan kami menjadii seorang Komandan,

Almarhumah ibu sering berkunjung ke Batalyon kami saat kami berpangkat Letnan Dua hingga Kapten,
Kebetulan kami berdinas di kota yang sama dengan orang tua kami, di Malang,
Kami masih mengingat perkataan ibu saat mengunjungi kami,
“Le, mugo mugo awakmu mengko iso dadi Komandan Batalyon, mendah neo gagahe, tapi dadio Komandan sing disegani anggota lho le, ojo sing diwedheni, awakmu kudu ngerti susahe anggota, elingo yen awake dhewe iki wong susah, bayangne wae opo sing dikarepne anggota marang awakmu”
(Nak, semoga dirimu suatu saat nanti bisa menjadi Komandan Batalyon, betapa gagahnya, tapi jadilah Komandan yang disegani anggota ya nak, jangan yang ditakuti, dirimu harus mengerti kesulitan anggota, ingatlah bahwa kita juga orang susah, bayangkan saja apa yang diharapkan anggota darimu)

Sayangnya almarhumah menyampaikan bahwa beliau sakit flu saat kami sertijab Danyon sehingga beliau tidak bisa hadir di Jakarta,
Beliau berjanji untuk mengunjungi kami dalam waktu dekat apabila sembuh.

Namun harapan itu pupus,
Tiga minggu kemudian Allah SWT lebih menyayangi ibunda untuk kembali ke pangkuanNya,

Saat ibu hendak menghembuskan nafas terahirnya, persis sebelum adzan maghrib, almarhumah berpesan melalui suaranya yang tampak sehat diujung telepon “mas, apakah rezekimu masih tetap halal? Dijaga ya mas, jangan ada rezeki yang bukan hakmu”
Kami jawab, “alhamdulillah masih senantiasa halal ibu”

Ternyata itu adalah pesan terahir beliau,
Setelah kami sholat maghrib berjamaah, kami mendapatkan kabar bahwa ibu telah meninggal dunia.
Diantara linangan air mata, yang hampir tidak pernah membasahi wajah kami,
Kami teringat betul bahwa pesan itu selalu diingatkan ibunda kepada kami setiap saat,

Saat kami masih remaja ibunda pernah bertanya, “apakah mas malu menjadi anak orang miskin?”
Kami jawab, “tidak ibu, kami tidak pernah malu, kami bangga dengan bapak ibu yang dengan gigih membanting tulang, walau keadaan kita tetap seperti ini”
Jawab ibu, “terima kasih mas, maka malulah suatu saat nanti apabila hidupmu serba berkecukupan namun semua itu bukan hakmu, maka malulah, dengan mengingat keadaan kita saat ini… Kita miskin namun yang kita miliki adalah milik kita sendiri”

Pernah suatu pagi saat kami hendak sarapan pagi, hanya tinggal kurang dari dua piring nasi di bakul beserta beberapa potong tahu dan tempe,
Makanan tersebut jelas tidak cukup untuk kami berenam, sehingga kami saling menunggu, agar semuanya kebagian makanan.

Sejurus kemudian, Ibu datang dan mengatakan “nak jangan dimakan ya.. Kita sudah sering makan, kasihan mereka”
Rupanya ibu baru melintas rumah tetangga yang ditinggal pergi suaminya karena godaan wanita lain, sehingga terpaksa menjadi buruh cuci baju,

Ketika ibunda lewat depan rumahnya, beliau mendengar tangisan anak ibu tersebut yang berusia 4 tahunan karena lapar,
Si ibu berusaha menenangkan anaknya bahwa mereka tidak punya apa apa, hanya nasi basi sisa kemarin,
si anak sambil menangis mengatakan “mangan karo uyah iyo ora opo opo (makan pakai garam juga tidak apa apa)”

Ibu segera berlari pulang dan mengambil nasi dan lauk seluruhnya untuk tetangga kami tersebut…
Tanpa sarapan kami berangkat ke sekolah dengan menahan lapar,
Namun demikian, kami justru mendapatkan pelajaran berharga agar “jangan pernah segan untuk berbagi, karena disekitar kita, masih banyak yang jauh kurang beruntung dibanding kita”

Teringat kata kata bijak yang sering ibunda katakan “Alhamdulillah nak, riyoyo iso nggoreng kopi”
(alhamdulillah nak, lebaran bisa menggoreng kopi)
Kata kata sederhana namun penuh makna, untuk menggambarkan kebahagiaan kami saat lebaran bisa “menggoreng kopi” atau bisa “merayakan” lebaran walau sungguh sangat sederhana,

Menggoreng kopi bagi beliau adalah
Memberikan baju baru jahitan tangan beliau sendiri bagi anak anaknya, menggoreng kacang sebagai kue lebaran, dan menyediakan cukup makan tiga kali sehari bagi keluarganya, Walau hanya hari itu saja. Esok harinya kami biasanya kembali menahan lapar dan makan seadanya.

Setelah kami hayati, makna dari apa yang ibunda sampaikan sangat bermanfaat bagi hidup kami.
Rasa syukur atas kebahagian yang sangat sederhana tersebut saat ini justru semakin langka,
Kita justru sering menghujat Tuhan, saat keinginan kita tidak terwujud,
Kita tidak sadar bahwa sesederhana apapun nikmat Tuhan bagi kita adalah kebahagiaan bagi orang lain.
Banyak yg ingin kembali bisa melihat, berjalan, mendengar atau berbicara walau hartanya bertumpuk namun nikmat itu telah dicabutNya
Banyak yang ingin bisa tidur pulas, hidup tenang, hidup bahagia yang justru tidak ia dapatkan saat hartanya melimpah.
Banyak pula yang kehilangan sahabat sejati di sekelilingnya digantikan dengan para penjilat dan penghianat terselubung yang siap menerkamnya

Ketika pangkat, harta dan kedudukan yang dimilikinya semakin penting dan semakin tinggi,
Hingga ia sangat merindukan suasana kesederhanaan yg dulu.

Makna dari nasehat ibunda adalah “Apapun yang kita miliki, jadikanlah sebagai kebahagiaan kita dengan penuh rasa syukur”
Karena tiada jaminan hanya dengan melimpahnya harta, tingginya jabatan dan kedudukan akan membuat hidup kita bahagia.
Karena bahagia itu lahir dari hati kita yang penuh rasa syukur dan ikhlas.

“Elingo nak ono poso ono buko, ojo rumongso susah”
(Ingatlah nak ada puasa ada berbuka, jangan merasa menderita)
Karenanya bahagialah dengan apa adanya yang kita miliki

Diantara begitu banyaknya khilaf dan salah kami,
Kami akan senantiasa belajar dari segala kesulitan maupun kemudahan yang menjadi garisan hidup ini untuk memperbaiki kekurangan yang kami miliki,
Kami meyakini bahwa “Semua yang kita alami atau dapatkan pada hakekatnya adalah peringatan agar kita terhindar dari segala jebakan kesombongan dan agar kita lebih dewasa dalam bersikap, bertindak dan bertanggung jawab”

Jangan pernah mengabaikan nasihat dan kasih sayang tulus orang tua kita, karena yakinilah bahwa semua itu akan membimbing kita agar menjadi manusia yang lebih “baik dan bermanfaat” bagi masyarakat luas

Aamin

Posted in

Leave a comment