Pemikiran Kebangsaan

Berbagi Pemikiran Demi Kemajuan Peradaban

Bangkit Rahmat Tri Widodo

Perang Amerika Serikat–Israel terhadap Iran memperlihatkan bagaimana biaya konflik bersenjata menyebar jauh melampaui medan pertempuran. Dalam perekonomian yang saling terhubung, gangguan terhadap pasokan energi dan meningkatnya ketidakpastian dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat di negara yang tidak terlibat langsung dalam perang. Bagi Eropa, persoalannya adalah bagaimana guncangan eksternal tersebut bertemu dengan pertumbuhan yang lemah, keterbatasan fiskal, dan ketidakpuasan terhadap pelayanan publik. Karena itu, krisis Eropa dapat dipahami sebagai bagian dari biaya internasional perang, dengan tetap mengakui bahwa akar persoalannya telah terbentuk sebelum konflik berlangsung.

Hubungan tersebut paling jelas terlihat melalui energi. Komisi Eropa mencatat bahwa antara 27 Februari 2026, tepat sehari sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dan 29 April 2026, harga gas meningkat sekitar 50%, sementara harga minyak mentah naik sekitar 65%. Dalam laporan yang sama, hampir tertutupnya Selat Hormuz disebut mengurangi aliran minyak dan LNG melalui laut masing-masing sekitar 15% dan 20%. Angka terakhir menggambarkan gangguan aliran perdagangan energi melalui laut dalam cakupan laporan, bukan persentase penurunan seluruh impor energi Eropa (European Commission, 2026). 

Untuk memahami konsekuensinya, penyebab kenaikan harga perlu dibedakan. Kilian (2009) menunjukkan bahwa perubahan harga minyak dapat bersumber dari gangguan pasokan, peningkatan permintaan global, ataupun perubahan permintaan yang khusus berkaitan dengan pasar minyak. Masing-masing menghasilkan konsekuensi makroekonomi yang berbeda. Kenaikan harga akibat menguatnya kegiatan ekonomi tidak dapat disamakan dengan kenaikan akibat perang yang mengancam pasokan. Kerangka ini membantu menjelaskan konflik sekarang, meskipun penelitian Kilian sendiri bukan penelitian mengenai perang Iran tahun 2026. 

Dalam konteks Eropa, tekanan energi tersebut berarti meningkatnya biaya menjalankan kegiatan ekonomi. Perusahaan menghadapi kemungkinan kenaikan ongkos produksi dan distribusi, sedangkan rumah tangga harus menyesuaikan pengeluaran ketika kebutuhan energinya menjadi lebih mahal. Secara analitis, tekanan terhadap kesejahteraan menjadi lebih besar apabila pendapatan tidak bertambah secepat biaya kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian, dampak perang dapat hadir dalam pengalaman yang sangat konkret: kemampuan belanja yang menyusut dan semakin sulitnya mempertahankan standar hidup.

Karakter guncangan ini juga berbeda dari krisis energi setelah invasi Rusia ke Ukraina. Arce et al. (2026) menjelaskan bahwa gangguan tahun 2026 lebih menonjol pada minyak dan produk olahannya, sementara lonjakan harga gas dan listrik pada krisis 2022 lebih besar. Perbedaan tersebut mempengaruhi kecepatan transmisi kepada konsumen karena kenaikan harga minyak dapat lebih cepat terlihat pada harga bahan bakar. Namun, bertambahnya kontribusi energi terbarukan turut membantu meredam penerusan kenaikan harga gas ke harga listrik. Artinya, biaya perang tidak hanya ditentukan oleh besarnya konflik, tetapi juga oleh kesiapan struktur energi negara penerima guncangan. 

Tekanan ekonomi selanjutnya dapat berlangsung bahkan sebelum seluruh kenaikan biaya benar-benar terealisasi. Caldara dan Iacoviello (2022) menemukan bahwa peningkatan risiko geopolitik berkaitan dengan pelemahan investasi dan ketenagakerjaan, serta meningkatnya risiko penurunan ekonomi. Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa ancaman perluasan perang dapat memengaruhi keputusan perusahaan: ketidakpastian mengenai pasokan, biaya, dan prospek permintaan memberikan alasan untuk menunda ekspansi. Dalam pengertian ini, biaya perang mencakup kesempatan ekonomi yang tertunda selain kerugian yang sudah terlihat. 

Bukti yang lebih dekat dengan konflik saat ini ditemukan dalam analisis Fantino et al. (2026) terhadap Survey on the Access to Finance of Enterprises. Sebelum perang, perusahaan memperkirakan biaya input non-tenaga kerja meningkat rata-rata 3,9% dalam dua belas bulan berikutnya. Pada minggu-minggu terakhir pengumpulan survei setelah perang dimulai, ekspektasi kenaikan tersebut mencapai 7,7%. Ekspektasi kenaikan harga jual juga bergerak dari 3,0% menjadi 4,1%. Angka-angka tersebut merupakan perkiraan perusahaan atas perkembangan mendatang, bukan realisasi kenaikan biaya dan harga. 

Perbedaan antara ekspektasi dan realisasi ini penting. Survei tersebut menunjukkan bahwa perang segera mengubah penilaian perusahaan terhadap lingkungan usahanya, tetapi tidak membuktikan bahwa seluruh kenaikan yang mereka khawatirkan kemudian benar-benar terjadi. Demikian pula, perbandingan perusahaan yang diwawancarai sebelum dan setelah perang memberikan bukti mengenai mekanisme transmisi, tanpa sepenuhnya mengisolasi semua pengaruh ekonomi lain.

Gambaran makroekonomi memperlihatkan tekanan yang serupa, sekaligus menunjukkan batas penggunaan istilah “krisis”. Dalam proyeksi September 2026, ECB memperkirakan pertumbuhan kawasan euro sebesar 0,9% pada 2026 dan 1,4% pada 2027. Inflasi rata-rata tahunan diproyeksikan mencapai 3,0% pada 2026 dan 2,5% pada 2027. Namun, ECB juga menyatakan bahwa ekonomi kawasan euro menunjukkan ketahanan lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Karena itu, data tersebut mendukung penilaian tentang pertumbuhan lemah dengan tekanan inflasi, bukan kesimpulan bahwa seluruh Eropa telah mengalami resesi atau keruntuhan ekonomi (European Central Bank, 2026). 

Kesulitan pemerintah muncul ketika tekanan terhadap masyarakat menuntut intervensi anggaran. Komisi Eropa mencatat bahwa langkah fiskal yang telah diumumkan untuk meredam dampak guncangan energi mencapai sekitar €14,5 miliar dalam cakupan laporan musim semi 2026. Nilai tersebut adalah besaran kebijakan yang diumumkan pada saat penyusunan laporan, bukan total kerugian perang maupun seluruh pengeluaran yang telah direalisasikan (European Commission, 2026). 

Secara analitis, kebutuhan bantuan darurat menambah sulitnya pembagian sumber daya publik. Pemerintah harus mempertimbangkan perlindungan daya beli dan keberlangsungan usaha bersama kebutuhan pendidikan, kesehatan, perumahan, serta pengelolaan utang. Dalam kondisi demikian, perang dapat mempersempit ruang kebijakan. Akan tetapi, untuk menyatakan bahwa pengeluaran energi secara langsung menyebabkan pemotongan anggaran sekolah atau layanan tertentu, diperlukan bukti dari keputusan anggaran masing-masing negara.

Perkembangan di Prancis memperlihatkan bagaimana tekanan eksternal bertemu dengan persoalan domestik. Reuters (2026) melaporkan bahwa pemerintah telah menambah pengeluaran darurat bagi petani, nelayan, dan pengangkut untuk menghadapi mahalnya bahan bakar akibat perang Iran. Pada saat yang sama, keterbatasan keuangan negara mempersempit kemampuannya merespons keluhan masyarakat. Protes yang berkembang pada September–Oktober bermula dari kekurangan guru dan buruknya fasilitas sekolah, kemudian meluas menjadi ketidakpuasan yang lebih luas. 

Kasus tersebut menunjukkan bahwa hubungan perang dengan keresahan sosial berlangsung melalui beberapa tahapan. Guncangan energi dapat menambah beban ekonomi; beban tersebut meningkatkan tuntutan terhadap pemerintah; sementara keterbatasan fiskal menyulitkan pemenuhan tuntutan. Ketika proses ini bertemu dengan keluhan mengenai layanan publik, tekanan ekonomi berpotensi berkembang menjadi persoalan legitimasi. Rangkaian ini merupakan interpretasi atas mekanisme yang mungkin bekerja, bukan pembuktian bahwa perang menjelaskan seluruh demonstrasi atau tindakan kekerasan.

Kehati-hatian serupa diperlukan ketika menghubungkan krisis dengan penguatan kelompok politik ekstrem. Funke et al. (2016), berdasarkan penelitian atas 20 negara maju dan lebih dari 800 pemilihan umum, menemukan peningkatan polarisasi setelah krisis keuangan sistemik. Akan tetapi, pola yang sama tidak ditemukan secara konsisten setelah resesi biasa atau guncangan besar yang tidak bersifat finansial. Penelitian tersebut memberikan peringatan mengenai kemungkinan konsekuensi politik suatu krisis, tetapi tidak dapat digunakan untuk memprediksi secara otomatis bahwa guncangan energi akibat perang Iran akan menghasilkan perubahan politik yang identik. 

Dengan demikian, makna the cost of US–Israeli war on Iran bagi Eropa terletak pada penyebaran konsekuensi perang melalui ketergantungan ekonomi internasional. Keputusan strategis di satu kawasan dapat meningkatkan biaya hidup, mengubah perhitungan perusahaan, dan memperberat pilihan anggaran di kawasan lain. Pada tahap berikutnya, konsekuensi tersebut dapat memperuncing ketegangan politik apabila masyarakat menilai bahwa perlindungan pemerintah tidak memadai atau pembagian bebannya tidak adil.

Kesimpulan yang paling kuat adalah bahwa perang memperbesar kerentanan Eropa yang telah ada. Bukti hubungan kausal paling jelas terdapat pada gangguan energi dan perubahan ekspektasi ekonomi, sedangkan hubungan dengan kerusuhan dan perubahan politik lebih bergantung pada kondisi domestik. Oleh sebab itu, menyebut krisis Eropa sebagai bagian dari biaya perang dapat dipertanggungjawabkan selama tidak menghapus peran kebijakan nasional, persoalan struktural, dan perbedaan antarmasyarakat Eropa. Biaya perang pada akhirnya juga diukur melalui kesejahteraan yang tertekan dan berkurangnya kemampuan pemerintah memenuhi kebutuhan warganya.

Daftar referensi

Arce, Ó., Battistini, N., Bouabdallah, O., Lis, E., & Mohr, M. (2026, June 3). A tale of two energy crises—Initial conditions matter. The ECB Blog. European Central Bank⁠.

Caldara, D., & Iacoviello, M. (2022). Measuring geopolitical risk. American Economic Review, 112(4), 1194–1225. https://doi.org/10.1257/aer.20191823⁠

European Central Bank. (2026, September). ECB staff macroeconomic projections for the euro area, September 2026. Publikasi ECB⁠.

European Commission. (2026, May 21). Spring 2026 economic forecast: Slowdown in growth as energy shock drives up inflation. Directorate-General for Economic and Financial Affairs⁠.

Fantino, D., Ferrando, A., Groß, J., Lamboglia, S., Lebastard, L., Rariga, J., & Schmidt, M. (2026, May 26). How the war in the Middle East is reshaping euro area firms’ expectations. The ECB Blog. European Central Bank⁠.

Funke, M., Schularick, M., & Trebesch, C. (2016). Going to extremes: Politics after financial crises, 1870–2014. European Economic Review, 88, 227–260. https://doi.org/10.1016/j.euroecorev.2016.03.006⁠

Kilian, L. (2009). Not all oil price shocks are alike: Disentangling demand and supply shocks in the crude oil market. American Economic Review, 99(3), 1053–1069. https://doi.org/10.1257/aer.99.3.1053⁠

Reuters. (2026, October 21). Explainer: France in turmoil: What might follow a weekend of riots? Reuters⁠.

Posted in

Leave a Reply